15
Mar
08

Siti Sundari

Ramarama

Baru pada 1984, pada usia 13, buat pertama kali dalam hidup saya, saya jatuh hati. Di sana, di SMP “Merah Delima”, Jl. “Danau Angsa”, Pejompongan, Jakarta Pusat, saya, seorang murid kelas 1, berjumpa dengan gadis paling jelita di jagat raya. Dia Siti Sundari. Selain menjabat ketua kelas 1-C, ia juga aktivis Palang Merah Remaja sekolah kami. Kulitnya putih-pualam. Matanya coklat muda, tak bercela. Rambutnya panjang, kerap dikepang, tapi pernah juga dibiarkan merdeka: berkibar-kibar bersama angin kemarau, seperti pada suatu siang, ketika ia naik metromini, duduk dekat jendela kaca, menerawang pemandangan jalan raya kota.

Saban kali kami berpapasan di koridor depan deretan ruang kelas; saban kali kami duduk berdampingan di Ruang Guru, tempat Kepala Sekolah menghimpun kami para ketua kelas untuk aneka pengumuman resmi; diam-diam saya meninjau garis-garis wajahnya, kemerlap matanya, dan serat-serat rambutnya yang coklat-hitam. Maka, jantung saya berkelejat, laju darah di pembuluh nadi saya tersendat, dan paru-paru saya kejang tiba-tiba.

Saya jadi gemar melamun. Jika saya berbaring di ranjang di tengah sunyi malam, maka bayang senyumnya, gerak-gerik tubuhnya, dan wangi rambutnya nongol berkibar-kibar menghantui jiwa saya.

Kehadiran Siti Sundari di sekolah kami membuat masa remaja saya menjadi sensitif, merana, tapi ajaib. Ia menjadi pusat alam saya. Saya selalu ingin menafsir Siti Sundari: membaca senyumnya, memetakan kebun bunga di matanya, dan diam-diam menyaksikannya bertanding di lapangan voli dan basket. (Ia begitu sehat, cepat, dan cekatan, bagai sebilah belati yang elok dan sabar.) Dan ketika saya tahu ia gandrung pada The Beatles, saya pun belajar mencerna dan mencintai lagu-lagu tua komplotan musik pop dan rock asal Liverpool itu.

Bahkan setelah setahun kami berguru di sekolah yang sama, saya masih terlalu pengecut untuk berkenalan dengan Siti Sundari. Jangankan berkenalan. Berada di dekatnya saja tubuh saya luluh. Maka, saya selalu berhati-hati menjaga jarak ideal antara tubuh saya dan tubuhnya: cukup dekat bagi saya untuk mengamati dia dengan kentara, cukup jauh bagi jantung saya untuk menahan gelombang “radiasi” dari tubuhnya.

Diam-diam saya belajar berbahagia dengan sekadar melacak jejak-jejak Siti Sundari di dunia, misalnya dengan mengunjungi gambar-gambar dan tempat-tempat yang membersitkan kehadirannya.

Mula-mula, saya belajar berbahagia dengan telentang merebahkan diri pada ranjang di tengah senyap malam, berbantal kedua lengan, melamun, menatap jaring laba-laba di plafon kamar, sambil mengenang sosok Siti Sundari di sebuah foto yang pernah saya lihat siang hari pada papan informasi sekolah: sosok Siti Sundari yang sedang berjabat tangan dengan presiden Indonesia, pada perayaan Hari Anak Nasional di Balai Sidang Senayan.

Namun, lambat laun, saya butuh citra Siti Sundari yang lebih konkret. Saya jemu merenungkan bayang-bayang Siti Sundari yang berkelebat dalam relung kepala tatkala saya melamunkannya. Maka, tanpa bakat senirupa, dengan hanya mengandalkan seberkas ingatan dan sebatang pensil Staedtler Mars Lumograph 100 2B, saya bersikeras memindahkan wajah Siti Sundari di khayal saya menjadi wajah Siti Sundari di kertas gambar. Setelah rampung, saya bawa serta gambar itu ke mana pun saya pergi, seperti jimat. Saya renungi gambar itu di kamar saban malam. Saya melamunkan dirinya lama-lama, sambil memanggil namanya pelan-pelan, sampai saya mengantuk. Sebelum tidur, saya selalu menaruh gambar Siti Sundari di bawah bantal.

Bagaimanapun, saya kecewa juga dengan gambar pensil itu. Gambar itu gagal menyerupai sosok asli Siti Sundari. Maka, dengan memanfaatkan posisi saya sebagai ketua kelas, saya mengembat pasfoto Siti Sundari. Pada suatu senja, ketika pelajaran sedang berlangsung di kelas, saya ngacir ke Ruang Tata Usaha. Saya berdusta kepada petugas arsip di sana, “Saya disuruh Wali Kelas 1-D untuk melacak siswa-siswa yang layak dicalonkan jadi penerima beasiswa. Yakni mereka yang miskin tapi berprestasi tinggi.” Ia mencaplok dusta saya. Maka, dengan leluasa, saya membaca-baca stamboek, sampai saya temukan biodata dan pasfoto Siti Sundari. Biodata Siti Sundari saya salin ke buku catatan, sedangkan fotonya saya “sikat” lalu saya bawa ke tukang foto untuk direproduksi.

Di samping itu, dengan sekadar tahu letak rumah Siti Sundari, saya bisa berbahagia. Pada sebuah senja bulan September yang diberkati dewa-dewa, sehabis 6 jam suntuk belajar di sekolah, dengan lagak kikuk seorang detektif remaja, saya membuntuti Siti Sundari yang pulang berjalan kaki di sepanjang trotoar basah di tepi barat Jl. Raya Bendungan Hilir sehabis hujan gerimis. Di atas kepala: mendung ungu. Di langit barat: mega jingga. Di pohon-pohon: wangi tetes hujan. Di hati saya: rasa malu, rasa tiada berdaya, dan satu teka-teki: Mengapa saya butuh dia? Mengapa, di depan kesaktiannya, jiwa saya bertekuk lutut?

Akhirnya, saya tahu tempat ia tinggal: sebuah rumah besar-kekar di Jl. Bendungan Hilir III. Sepasang pohon siwalan menjulang di halaman, tegak membidik langit Jakarta. Sebongkah Mercedes antik mendekam di depan garasi. Dengan mengerahkan mata saya laksana kamera, detil-detil pemandangan rumah Siti Sundari saya serap dan saya rekam di otak saya. Saya berkhayal: Andai ia kelak mengundang saya bercakap berdua, di ruang tamu itu, pada suatu malam Minggu. Mungkin saya akan semaput, tak kuasa menanggung sukacita.


March 2008
M T W T F S S
     
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Months