Siang itu, diburu oleh rasa lapar, Jaka Tarub, seorang salesman asuransi, mengungsi ke sebuah kedai pizza. Salah seorang pelayan kedai itu, ternyata, bukan manusia, tapi Nawang Wulan: seorang bidadari yang terdampar di Jakarta, yang terpaksa bekerja sebagai waitress, tekun mengumpulkan duit untuk mudik ke kahyangan. Pesona Nawang Wulan menjerat Tarub. Tak setiap hari Jakarta dikunjungi bidadari. Seraya menanti datangnya penganan yang ia pesan, Tarub berkhayal yang bukan-bukan:
Seorang lelaki duduk bersila di emperan sebuah restoran Pizza Hut di Jakarta. Di lehernya tergantung sebuah poster: “Jual cinta. Cinta panjang Rp 25.000. Cinta pendek Rp 15.000.” Matanya terpejam. Jemarinya, yang berkuku bersih-tajam, menggapai-gapai kaki orang yang lewat tak perduli.
Siang gerah. Angin terik memanggang kulit wajah orang-orang. Sudah dua jam lelaki itu bercokol di situ tapi tak seorang pun menaruh minat padanya, bahkan setelah di lehernya ia kemudian mengalungkan sebuah poster baru yang membanting harga: “Saya salesman cinta. Saya jual cinta. Cinta 1 jam cuma-cuma. Cinta 2 jam suka-suka.”
Para tamu Pizza Hut mungkin tak paham apa yang dimaksud lelaki itu dengan kata “cinta”, baik yang 1 jam maupun yang 2 jam. Atau, sebenarnya mereka mengerti, tetapi mereka takut tampak begitu putus asa sampai-sampai harus berjajan cinta pada emperan sebuah kedai pizza.
Lelaki itu jengkel. Ia mengupas busananya, hingga tinggal cawat saja. Ke dalam Pizza Hut ia datang, menjajakan tubuhnya yang 3/4 telanjang. Tubuh itu proporsional. Mungkin ia bekas peragawan.
“Tuan-Tuan dan Nyonya-Nyonya, hari ini saya lelang tubuh saya. Saya akan serahkan tubuh saya satu malam pada si penawar tertinggi. Lelang dimulai!”
Tamu-tamu melongo sebentar lalu bercakap-cakap kembali atau mengunyah pizza. Seperti tak terjadi apa-apa.
“Mengapa kalian diam saja? Tengok tubuh saya! Beli tubuh saya!”
Tamu-tamu naik pitam.
“Kami tidak ngiler melihat tubuh kamu, goblok!”
“Biarkan kami makan siang dengan tenang.”
“Kami ingin pizza, bukan gigolo!”
Salah seorang tamu bergegas mencari satpam atau satpol pamong praja. Tapi ia dicegah oleh seorang perempuan pelayan.
“Tunggu!” katanya. “Serahkan lelaki itu kepada saya.”
Ia melambai kepada operator musik:
“Bung, tolong putar musik jaipong untuk kami!”
Musik jaipong mengisi restoran. Perempuan itu tersenyum. Ia riang. Ia melambungkan secarik serbet ke angkasa. Serbet itu hinggap menjuntai pada lampu gantung. Ia menggamit tangan si lelaki penjual tubuh dan berkata kepadanya:
“Mari kita menari jaipong.”
“Maaf, Nona, aku tak bisa.”
“Izinkan aku mengajarimu.”
Dua manusia ngibing jaipong. Si perempuan lincah. Si lelaki canggung, terhuyung-huyung, beberapa kali hampir tersungkur. Tapi sepasang tubuh itu lekas lupa pada jaipong dan mulai melenggang menurut dentam-dentam kendang yang ada di jantung mereka sendiri. Mereka kasurupan. Penari perempuan meraih sebuah botol tabasco. Ia melumuri kening penari lelaki dengan tabasco. Dikecupnya kening itu dengan khusyuk dan khidmat.
“Lelaki, kau lebih hidup dari pizza.”
“Perempuan, kau lebih sakti dari lelaki. Pungut tubuhku, jadikan milikmu.”
“Tapi aku fakir. Upahku bahkan tak cukup untuk ongkos bajaj dan metromini ke kahyangan.”
“Demi kamu, aku akan berjuang untuk jadi orang kaya. Bawa aku bersamamu.”
“Baik, kamu kuadopsi.”
Petang itu mereka nikah. Mereka bersukacita, meski perempuan itu kontan dipecat oleh manajernya, yang menuduhnya asusila. Mereka mahabahagia, meski tubuh lelaki itu luka-luka, setelah para pengunjung kedai pizza itu menyerangnya, dengan lontaran asbak, piring, sendok, garpu, dan pisau.
Fragmen cerpen Sony Karsono, "Melankolia", Karya Darma, April 1997.

Kapan sebaiknya hidup itu berakhir?
Dialog-dialognya cerdas mas! Settingnya, seperti kata banyak komentator sastra yang saya baca di google, memang liar. Tapi, yang ini sungguh banyak menghadirkan senyum simpul…
karya darma! saya termasuk orang ceroboh yang tak punya file karya-karya yang dimuat di koran kecil tapi penting itu.